Blog Archives

Laporan Pertanggungjawaban Reuni Akbar dan Lebaran Santri 1437 H

WhatsApp-Image-20160715

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN

LEBARAN SANTRI DAN REUNI AKBAR 1437 H

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya, acara Lebaran Santri dan Reuni Akbar 1437 H atau tahun 2016 yang digelar pada Minggu, 17 Juli 2016 dapat berjalan dengan baik.

Dalam pelaksanaan kegiatan lebaran santri ini, panitia dan pengurus Almaa berupaya menghapuskan perbedaan atau pemisahan antara alumni yang mondok dan luar pondok. Dengan begitu, kami berharap seluruh alumni Al Hidayah merupakan santri, sehingga berhak untuk mengikuti acara Lebaran Santri dan Reuni Akbar ini.

Kemudian, untuk menjaga transparasi kegiatan sekaligus evaluasi, kami membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan. Mudah-mudahan, laporan ini dapat menjadi referensi sekaligus evaluasi bagi pengurus Almaa dan panitia ke depanya dalam mempersiapkan acara sehingga dapat berjalan lebih baik, insya Allah.

Berikut adalah rincian hasil kegiatan yang kami laporkan,

1. ACARA

Alhamdulillah, pelaksaaan acara dapat kami gelar sesuai jadwal yang ditetapkan di kalender Yayasan Pendidikan Al Hidayah, yakni pada Minggu, 17 Juli 2016 atau bertepatan pada 12 Syawal 1437 H.

Untuk mempersiapan acara ini, Ketua Almaa Islahul Ihsan mulai membahasnya pada minggu pertama Bulan Ramadhan. Sehingga, terdapat waktu persiapan yang cukup sekitar satu bulan bagi kami, mulai dari pembentukan panitia, memohon persetujuan ke pengasuh pondok dan yayasan, hingga mempromosikan acara  ke para alumni.

Teknis pengundangan peserta Reuni Akbar dan Lebaran Santri 1437 H ini, panitia telah menyiapkan undangan resmi. Tapi, mengingat terbatasnya sumber daya, metode yang kami lakukan lebih banyak secara informal lewat media sosial, seperti akun Facebook Almaa. Sedangkan dalam mengundang para guru-guru di sekolah maupun pesantren, kami lakukan melalui undangan resmi.

Ke depan, sebaiknya pengundangan selain lewat media sosial juga dibarengi dengan pemasangan spanduk di kawasan Basmol dan wilayah-wilayah lain yang banyak memiliki alumni. Panitia juga bisa memanfaatkan proposal kerja sama dengan media televisi atau surat kabar untuk memasang iklan undangan acara Reuni Akbar dan Lebaran Santri.

Alhamdulillah pada hari acara , sebagian besar para guru, ustadz, ustadzah, dan keluarga besar yayasan Al Hidayah Basmol turut hadir di acara ini. Berdasarkan absensi yang kami siapkan, jumlah alumni yang hadir di acara ini sekitar 400 orang, mulai dari angkatan pertama hingga lulusan tahun 2016.

Adapun jadwal acara yang kami susun yaitu,

07.30 – 08.00 Registrasi
08.00 – 08.30 Hiburan Hadroh Pondok Putra
08.30 – 09.00 Tahlil dipimpin ustadz M. Nur
09.00 – 09.10 Opening oleh MC, Ahsanul Bisri,
09.10.09.20 Pembacaan ayat suci Al-Quran
09.20-11.00 Sambutan-sambutan
1. Ketua Panitia: Yazid
2. Perwakian Alumni: Ust. Nasri
– Pemutaran Slide biodata guru oleh Jauhar
3. Ketua Almaa: Islah
4. Pimpinan Pesantren: KH. Hisyam Al Burhani Hasyim
5. Pimpinan Yayasan: KH. A Syarifuddin Abdul Ghoni MA
11.00-11.15 Foto untuk para Asaatidz
11.15-11.45 Salaman-salaman alumni putri dan disusul alumni putra.
11.45- 12.00 Foto bersama
12.00 – selesai Makan Siang dan ziarah kubur bersama

Namun, dalam pelaksanaannya, kami melakukan sejumlah penyesuaian. Dan, beberapa evaluasi kami dalam penyajian acara ini antara lain,

–  Pembacaan tahlil realisasinya dipimpin oleh Ustadz Muadz

– Acara dimulai lebih lambat lima menit dari agenda, karena masih kurang tertibnya barisan. Ke depan, nampaknya harus ada keamanan atau sosok alumni dituain sehingga menjadi contoh yuniornya untuk ikut duduk di barisan depan

– Agenda pembacaan qori ditiadakan, karena sejak awal sifatnya kondisional

– Pemutaran film dokumenter banyak yang berharap bener film sejarah asatidz dan pesantren bukan hanya sekadar presentasi.

– Foto bersama setelah acara tidak teralisasi dengan sempurna karena suasana dan kondisi ketika akhir acara sudah tidak kondusif

– Ziarah alumni tidak terlaksana dengan baik.

– Perlu wadah kadus atau plastik untuk snack peserta, sebab banyak yang sulit membawanya sehingga tersisa banyak.

– Perlu lebih rapih dalam penyajian makan siang.

  1. PERLENGKAPAN DAN KONSUMSI

    Dalam pelaksanaan acara, Almaa dapat banyak sumbangan perlengkapan acara dari pihak yayasan, sehingga membantu dalam penghematan pengeluaran. Misalnya, layar dan proyektor, kamera SLR, handycam, sejumlah alat tulis, dan lain-lain.

Selain itu, minimnya pendanaan yang ada, membuat kami hanya dapat menyewa tenda yang tidak begitu besar, yakni dengan ukuran hanya 13 meter x 16 meter atau separuh dari lapangan MA/MTs Al Hidayah. Akibatnya, tempat masih kurang memenuhi sehingga beberapa peserta atau alumni hanya bisa di tempatkan di deretan belakang yang hanya beratap dan beralas terpal. Kami menggunakan perlengkapan tenda sound sistem, dan panggung milik Ustadz H Thoifuri dengan harga sewa Rp 2,5 juta.

Di tahun yang akan datang diharapkan dapat menyewa tenda dengan ukuran yang lebih besar sehingga sekaligus dapat menyewa tenda yang nantinya dapat dijadikan stand untuk promosi usaha alumni serta menjadi tambahan masukan untuk alumni.

Pada Lebaran Santri dan Reuni Akbar 1437 H ini, kami tidak membuka stand untuk penjualan. Kami hanya menggelar lapak yang menampilkan buku-buku karya asatidz basmol dan alumni, serta sanad keilmuan KH A Syarifuddin. Stand yang diizinkan untuk dibuka hanyalah stand penjualan stiker yang hasil penjualannya diinfakkan untuk pembangunan pondok pesantren.

Untuk konsumsi makan siang, kami menyiapkan nasi uduk yang jumlahnya mencapai 63 nampan. Dalam penyajian masih kurang tertata, sehingga meskipun jumlah peserta sangat banyak, namun konsumsi masih tersisa. Biaya konsumsi nasi uduk mencapai Rp 4 juta yang kami pesan di Mpo Taz.

  1. KEUANGAN

a. Dana Masuk

Nama Kegiatan Nilai
A. Sebelum Acara
di Ust M Nur Rp4.225.000
di M Yazid Rp1.000.000
B. Saat Acara/Infak Alumni Rp6.320.000
Total pemasukan Rp11.545.000

b. Dana Keluar

Nama Kegiatan Nilai
A. Perlengkapan
Tenda, Sound, Blower Rp2.500.000
Banner, X Banner, Fotoboot Rp600.000
Laundry Karpet dan Terpal Rp700.000
Sub total Rp3.800.000
B. Konsumsi
Nasi Uduk Rp4.000.000
Buah-buahan Rp300.000
Air Mineral Rp320.000
Snack peserta Rp600.000
sub total Rp5.220.000
C. Acara
Sarapan panitia, dll Rp100.000
Makanan/minuman panitia Rp200.000
Parkir dan kebersihan Rp400.000
rokok tenda dan parkir Rp150.000
Sub total Rp850.000
Total Pengeluaran Rp9.870.000

c. Saldo

Pemasukan Rp.11.545.000
Pengeluaran Rp.9.870.000
Potongan uang di bank Rp.12.000
Sisa Dana Rp.1.663.000

 Tabel Keuangan berdasarkan penanggung jawab pemegang dana

Penanggung Jawab Uang Masuk Uang Keluar Saldo Keterangan
1. Ust M Nur 600.000 600.000 Masuk ke Rekening
200.000 800.000 Masuk ke Rekening
200.000 1.000.000 Masuk ke Rekening
100.000 1.100.000 Masuk ke Rekening
200.000 1.300.000 Masuk ke Rekening
300.000 1.600.000 Masuk ke Rekening
300.000 1.900.000 Masuk ke Rekening
700.000 2.600.000 Masuk ke Rekening
700.000 3.300.000 Masuk cash
200.000 3.500.000 Masuk Cash
400.000 3.900.000 Masuk Cash
3.000.000 900.000 Bayar Nasi uduk
12.000 888.000 Potongan bulanan Bank
300.000 588.000 Beli Buah-buahan
325.000 913.000 masuk cash setelah acara
913.000
2. M Yazid 700.000 1.613.000 Masuk Cash
100.000 1.713.000 Masuk cash
100.000 1.813.000 Masuk cash
100.000 1.913.000 Masuk Cash
600.000 1.313.000 Beli Snack
100.000 1.213.000 Sarapan panitia
150.000 1.063.000 Konsumsi tenda, parkir
1.063.000
3. Hafizuddin 6.320.000 7.383.000
2.000.000 5.383.000 u/ pelunasan tenda
400.000 4.983.000 Parkir
100.000 4.883.000 beberes tenda
100.000 4.783.000 konsumsi beberes
1.000.000 3.783.000 Ganti uang yazid (Dp nasi uduk)
750.000 3.033.000 Ganti uang Toni (Dp tenda, beli air)
600.000 2.433.000 Banner
70.000 2.363.000 beli aqua
700.000 1.663.000 Laundry karppet
Saldo Akhir     1.663.000
  1. Lain-lain

Sejumlah perlengkapan sisa-sisa pelaksanaan acara seperti Banner, X-Banner, photo both, stample Almaa, biodata alumni, serta alat-alat tulis kami simpan base camp (sekretariat sementara) Almaa di rumah sdr Ust M Nur. Semoga dapat dimanfaatkan oleh pegurus Alma ke depannya.

Untuk tindak lanjut pendanaan yang saldonya mencapai Rp 1.663.000, kami panitia Lebaran Santri dan Reuni Akbar 1437 H akan mengembalikan dana Rp 700.000. Sehingga, sisa danapelaksanaan acara sebesar Rp 963.000 akan kami simpan di rekening BRI Nomor 0398-01-011971-50-2 atas nama Muhammad Nur. Rinciannya, saldo terakhir saat  ini Rp 88.000, dan uang yang akan disetor sejumlah Rp 875.000.

 

  1. Penutup

Demikian laporan hasil kegiatan kami buat sebagai bentuk pertanggungjawaban kami atas amanah yang diberikan oleh pengurus Almaa. Mudah-mudahan, ini dapat menjadi pelajaran untuk pelaksanaan kegiatanAlmaa di kemudian hari.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

 

Panitia Lebaran Santri dan Reuni Akbar 1437 H

 

Ketua Pelaksana                             Sekretaris                         Bendahara/Koord. Pendanaan

 

(M Yazid)                              (Ahsanul Fikri)                           (Muhammad Nur)

 

Koordinator Acara                              Koordinator Konsumsi/Perlengkapan

 

(Ahasnul Bisri)                                                          (Mathoni)

Reuni Akbar dan Lebaran Santri

brosur ls

brosur lebaran santri

Seperti tahun yang lalu, Reuni Akbar dan Lebaran Santri kini hadir lagi untuk menjawab kerinduan. Kegiatan yang akan dijadikan tradisi tahunan di Al-Hidayah Basmol ini sudah menjadi menu wajib. Hal ini ditunjukkan dengan dibuatnya agenda Reuni Akbar dan Lebaran Santri langsung dari pihak Yayasan sebagai kesepakatan di kalender akademik.

Tentu saja tahun ini lebih special dari sebelumnya. Kenapa?

Karena tahun ini, guru kita KH. Ahmad Syarifuddin Abdul Ghoni, M. A akan memberikan sanad guru-gurunya yang bersambung sampai Nabi Muhammad SAW.  Beliau siap memberikan tanda tangan di lembar sanad untuk alumni, santri dan para asaatidz sebagai bukti validitas dan reliabilitas keabsahan sanad yang kita miliki nanti.

Trus, kami dari panitia insyaa Allah akan menyuguhkan Film Dokumenter Pesantren dan Biografi Masyayikh serta Asaatidz mengulang kenangan yang mungkin sempat hilang, memunculkan kembali memori lama yang akan membuat gelak tawa  dan tangis. Film tersebut dipersembahkan agar kita semakin menghargai, mengenal dan bangga atas jasa para guru yang telah memberikan ilmu-ilmunya dahulu.

Oh iya, belajar dari pengalaman tahun lalu. Ada yang mau kami tegaskan bahwa kegiatan Reuni Akbar dan Lebaran Santri ini bukan hanya milik santri dan alumni pesantren. Tapi ini milik Keluarga Besar Al-Hidayah Basmol. Reuni Akbar ialah essensi yang ditujukan kepada alumni Madrasah Tsanawiyah atau Aliyah. Lebaran Santri ditujukan kepada santri dan alumni yang sejatinya tetaplah menjadi santri. Bahkan siapa pun yang pernah belajar di Al-Hidayah Basmol meski hanya sehari, kami menyambut hangat untuk kedatangannya.

Bagi sahabat yang ingin berkontribusi untuk kegiatan ini dapat disalurkan melalui rekening 0398-01-011971-50-2 BRI PURI NIAGA atas nama Muhamad Nur.

Mari sukseskan Reuni Akbar dan Lebaran Santri Keluarga Besar Al-Hidayah Basmol!

 

 

Walimah Putri (alm) KH. Alawi M. Zein, M. A

IMG_20150724_230954

IMG_20150724_231004Assalamu’alaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh

Kami mewakili keluarga besar (alm) KH. Alawi M. Zein, M. A turut mengundang sahabat alumni Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol untuk menghadiri resepsi pernikahan putri beliau.

Najwa Alawi, SKM

dengan

Musayyib, S. Pd. I

Yang insyaa Allah akan dilaksanakan pada :

AKAD NIKAH

Minggu, 9 Agustus 2015 – 24 Syawal 1436 H

Jam : 08.00 WIB

Tempat : Di kediaman mempelai wanita (rumah alm KH. Alawi M. Zein, M. A)

Depan Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

RESEPSI

Minggu, 9 Agustus 2015 – 24 Syawal 1436 H

Jam : 10.00 WIB s/d SELESAI

Tempat : Di kediaman mempelai wanita (rumah alm KH. Alawi M. Zein, M. A)

Depan Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

Kami mewakili keluarga besar (alm) KH. Alawi Muhammad Zein, M. A mohon maaf bila dalam perihal undangan tak bisa langsung bersua mengingat banyaknya kesibukkan dan kekurangan.

Mohon untuk dikabarkan kepada sahabat alumni lainnya, karena berbagi kabar baik itu SEDEKAH yang insyaa Allah akan dibalas oleh Allah SWT.

Merupakan suatu kehormatan atas kehadirannya, mengawali kedatangan sahabat alumni nanti kami ucapkan ‘Syukran katsiran wa Jaazakumullah ahsanal Jaaza’

Hormat Kami :

Keluarga Besar (alm) KH. Alawi M. Zein, M. A

Keluarga Besar Alumni Ma’had Al-Hidayah Basmol

Wassalamu’alaikum Wa rahmatullah Wa barakatuh

Reuni Akbar dan Lebaran Santri Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

Apa sih lebaran santri ?

Pertanyaan itu pasti terbersit di benak teman-teman alumni atau santri saat pertama kali membaca atau mendengar info tersebut, maklumlah ini merupakan acara baru yang ke depannya Insyaa Allah ingin dijadikan rutinitas tahunan di pesantren.

Seperti yang sudah kita ketahui, tradisi open house guru-guru kita di Basmol ialah hari Jum’at untuk menyambut alumni, santri, keluarga dan siapapun yang ingin halal bi halal kesana. Sudah dimaklumi tamu yang datang sangat membludak ketika itu, sehingga alumni atau santri terpaksa harus berbagi ruang dan waktu dengan rombongan lain jadinya tidak bisa ngobrol panjang lebar, foto bareng atau bercerita melepas kerinduan bersama para masyaikh, asatidz dan keluarganya.

Karena itulah terbersit ide lebaran santri ini sebagai langkah awal untuk menyatukan semua elemen Pondok Pesantren yang disetujui dan didukung penuh antusias oleh KH. Ahmad Syarifuddin Abdul Ghoni, M. A dan KH. Hisyam Hasyim Al-Burhani.

Lalu gimana dengan tradisi open house hari Jum’at ?

Masih ada, itu tak akan terhapus.

Bedanya lebaran santri ini KHUSUS para alumni dan santri Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol untuk silaturrahmi bersama, ngobrol bareng dan foto-foto dengan para masyaikh, asatidz dan keluarganya. Selain itu jadi ajang temu kangen sesama alumni dan mengenal santri-santri yang sekarang sedang belajar.

Jadi bila Jum’at mau datang, silakan saja tapi moment penting alumni atau santri di lebaran santri ini.

Sebagai pelengkapnya disertai dengan REUNI AKBAR untuk temu kangen lintas generasi alumni Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol.

Jadi siapapun yang pernah jadi santri di Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol bisa datang ke acara tersebut, tak peduli dia hanya mondok MTs atau MA saja, jadi santri hanya setengah tahun atau beberapa bulan. Selagi Anda pernah jadi santri di basmol, Anda ialah keluarga besar Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol.

Sebagai penyempurnanya pastikan ajak teman-teman angkatan Anda untuk meriahkan momentum istemewa ini.

Trus buat yang sudah berkeluarga gimana ?

Datang aja, ajak sanak keluarga ke pesantren, kan bisa sekalian minta doa dari para masyaikh dan asaatidz.

Lalu dikenakan biaya nggak ?

Nggak, ini GRATIS !!!

Jadi ini sudah sengaja diatur agar kebersamaan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol antar alumni, santri dengan para masyaikh, asaatidz dan keluarganya tetap berlanjut guna memajukan Pondok Pesantren ke depannya.

Jelas sudah kan ?

Untuk infonya lebih jelas bisa hubungi kontak dibawah ini :

Ahmad Baihaqi           : 081310132074

Islahul Ihsan                : 081288714148

Muhammad Nur          : 089652350047

Hafizuddin Razaq       : 081222210200

Ahsanul Bisri              : 082210189543

Daftar Pondok Pesantren di Jakarta Barat

Berikut ini daftarnya pesantren di Jakarta Barat :

  1. PP. Al Falah : JL. KH. Tohir 43 Rt.03/07 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat (021) 5303453
  2. PP. As Shiddiqiyah : Jl. Surya Sarana 6 c Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat (021) 5803046
  3. PP. As Surur : Jl. H.H. No.63 Rt.08/01 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat (021) 70122065
  4. PP. At Taufiiq : Kedoya Selatan Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat 08159920584
  5. PP. YPP. Al Kamal : Jl. Kedoya Raya No.2 Kebon Jeruk Kota Jakarta Barat (021)  58301233
  6. PP. Al  Abror : Jl. Manggis No.5A Srengseng Kembangan Kota Jakarta Barat (021) 5849903
  7. PP. Al Hidayah Basmol : Jl. Al-Hidayah Basmol Rt.06/06 Kembangan Utara Kota Jakarta Barat           (021) 5812061
  8. PP. Al Washilah : Kp. Baru No.20  Rt.014/010 Kembangan Kota Jakarta Barat (021) 5811672
  9. PP. An Nuriyah : Komplek Unilever No.22 Kembangan Kota Jakarta Barat (021) 5850454
  10. PP. Mirqot Ilmiyah Al Itqon : Jl. H. Selong Rt.005/03 Cengkareng Kota Jakarta Barat (021) 5453788
  11. PP. Nurul Qur’an : Jl. Raya Duri Kosambi No.7 Cengkareng Kota Jakarta Barat (021) 54396458
  12. PP. Minhajut Tholibin : Jl. Peta Utara No.46 Kalideres Kota Jakarta Barat (021) 5401881
  13. PP. Sirojul Huda : Jl. Utan Jati Rt.002/011 Kalideres Kota Jakarta Barat (021) 5453862
  14. PP. Riyadhul Mu’minin : Jl. Petamburan Angke No.21 Grogol Petamburan Kota Jakarta Barat (021) 5676830

Pastinya masih ada banyak lagi daftar pesantren lain yang belum tercantum di Jakarta Barat.

Sejarah Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

file055

Asrama Putra Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

file013

 

Gedung Asrama Putra Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol Dua Lantai

Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol didirikan pada tahun 1983, diawali oleh keinginan para pelajar baik dari Ibtidaiyah  (SD), maupun dari tingkat Tsanawiyah (SLTP) banyak di antara mereka ingin memperdalam Ilmu-ilmu agama dengan kitab Salafiah ( kitab kuning ).

Maka untuk kesinambungan pendidikan tersebut dalam rangka mengisi pembangunan dalam bidang pendidikan mental spiritual, kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk ditampung dalam suatu Asrama guna melayani aspirasi mereka.

Karena kegiatan demi kegiatan pendidikan dari tahun ke tahun makin tumbuh dan berkembang dengan pesat dan ditambah dengan beberapa Mukimin yang telah selesai dengan studinya di luar negeri seperti Saudi Arabiah, Mesir, Libia dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia, maka kami adakan rapat/musyawarah dengan beberapa tokoh ulama untuk kiranya dapat menyediakan tempat untuk para anak didik seperti tertera pada di atas.

Diantara hasil musyawarah diputuskan untuk menyediakan asrama bagi siswa yang tinggalnya jauh dari sekolah/ Madrasah dan hasil musyawarah ini dilaporkan kepada ketua yayasan Al hidayah yakni KH Mas’ud dan KH Muhtar juga kepada pengurus Yayasan.

Dengan seizin Allah SWT hasil musyawarah ini mendapat dukungan dari masyarakat sekitarnya, sehingga selang beberapa bulan berdirilah tempat penginapan untuk putra saja, yaitu pada tahun 1988 – 1989. Pada tahun berikutnya kami mulai membangun asrama putri yang sebelumnya bagi putri tinggal/ditampung di rumah penduduk.

Dengan wakaf tanah yang diberikan Alm KH Mas’ud kami lanjutkan pembangunan meskipun dengan bantuan uang sekedarnya, maka terdapatlah bangunan sederhana untuk santri putri. Tepat awal tahun ajaran 1989 – 1990 santri putri sudah dapat mengikuti  Ta’lim pendidikan di asrama.

Dalam kondisi yang sederhana sedikit demi sedikit Pesantren Al-Hidayah mulai mengadakan  berbagai sarana dan fasilitas pendidikan yang diperlukan oleh para santri. Diantaranya penambahan ruang kamar santri secara permanen dua lantai.

Langkah Sejuta Cahaya

sophi

SATU

Pagi hari yang cukup mengigil dipusat kota Istanbul. Jalanan yang begitu licin setelah hampir dua setengah jam diterpa hujan ringan. Matahari masih belum mengeluarkan sinarnya dari ufuk timur. Biasanya secercah cahaya mulai timbul dibalik minaret-minaret Blue Mosque dan Hagia Sophia. Cahaya itu langsung mengarah ke jendela kamar kami yang letaknya tidak jauh dari landmark bersejarah itu.

Aku dan kedua sahabatku dari Indonesia masih asyik manja dengan guling dan bantal serta selimut yang lumayan tebal. Cuaca yang sangat mendukung bagi kami. Biasanya di negara kami kalau sudah masuk musim penghujan, apalagi hujan itu turun tengah malam disaat manusia masih dalam keadaan tidur, udara Jakarta berevolusi layaknya udara Puncak Bogor. Sangat sejuk dan dingin. Aku pun malas untuk beraktivitas dan lebih memilih kembali kepembaringan.

Kota metropolitan seperti Jakarta amat begitu miris bila musim penghujan tiba. Bila terus menerus hujan turun dengan intensitas tinggi, air langsung menyerbu sebagian kampung yang drainasenya begitu minim. Singkatnya, apabila hujan turun terus menerus kota Batavia akan berubah menjadi pulau. Di mana-mana terjadi banjir. Tiap kampung terkenal karena sorotan media massa yang selalu on time meliput. Beruntung dikampungku termasuk dataran tinggi jadi tidak terkena imbasnya.

Kami bertiga tinggal di Hostel milik kawan kami berdarah pribumi. Aslan Ozcan. Semenjak mendapatkan beasiswa S2 ke Universitas Istanbul dengan penuh perjuangan dan air mata. Aku dan kedua sahabatku bertemu Ozcan tepat di gerbang Universitas yang dari dulu kami impikan ini. Bahkan sempat bingung mencari kelas yang akan kami tempati. Hingga akhirnya aku dan kedua sahabatku ini berpencar. Beruntung ketika itu kami bertemu pemuda Turki yang berpostur tubuh ideal, gagah dan memiliki brewok tipis. Terlebih lagi pemuda itu lumayan lancar bahasa Indonesia. Hati kami begitu senang dan bangga tatkala ada orang pribumi yang bisa bahasa asing. Bahasa Indonesia. Bahasa pribumi kami. Itulah Ozcan.

Kami senang bisa berkenalan dan mempunyai teman dari negara lain. Jadi teringat nasihat guruku ketika di pesantren dahulu. Beliau memberikan wejangan syair Imam Syafi’I sebelum aku lulus dan menempuh ke jenjang lebih tinggi lagi.

Orang pandai dan beradab tidak akan tinggal diam dikampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah kenegeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Wejangan itulah yang aku rasakan ketika bertemu Ozcan. Sangat beruntung kami bertemu dia. Karena keterbatasan bahasa Turki yang kami kuasai, kami pun masih enggan untuk berinteraksi dengan masyarakat Istanbul. Disisi lain juga beruntung karena di samping kuliah, kami dapat meneruskan kursus bahasa Turki yang sudah disediakan dari pemerintah Indonesia. Jadi sedikit-sedikit timbul rasa optimism tinggi dapat menguasai bahasa tersebut.

“Farhan… Syafaat… Lukman…. Bangun. Sudah siang, sarapan dibawah sudah siap.” Sahut Ozcan dengan logat asingnya membangunkan kami yang masih asyik terbuai udara Eropa.

Kami tidak lantas bergegas bangun. Mata kami hanya melirik sedikit, mengulet, lalu tidur lagi. Aku berdesah pelan menyapa Ozcan. “Ekhhmmm… Iya Can’.”

Sepintas aku sempat meliriknya kembali. Pandangannya masih mengarah ke kami yang sedang asyik tidur. Kulihat ia menggelang-gelangkan kepala. Sangat ambiguitas. Menggeleng karena lucu melihat kami tertidur sambil mulut menganga, kemudian mengeluarkan air yang membentuk pulau kecil atau menggeleng karena merasa terganggu karena keberadaan kami. Yang jelas aku yakin ia tidak merasa keberatan. Karena aku lihat Ozcan hanya tersenyum lebar. mungkin merasa lucu melihat kami tidur dengan mulut menganga.

Dengan cara yang halus, ia terus membangunkan kami. Kali ini bukan dengan suara atau bukan dengan kontak fisik. Aku kagum dengan caranya membangunkan kami kesekian kalinya. Cara yang halus namun cerdik. Ia sengaja menyingkap gorden, lalu membuka jendela kamar kami. Udara menggigil langsung menusuk tulang rusuk kami. Ozcan hanya tertawa cekikikan. Kami langsung bangun. Buru-buru mengambil mantel panjang kami.

“Haddduh, Hadduh… ente gimane sih Can! Dasar Sinchan! Bagus aye kage masuk angin.” Ujar temanku Lukman, sengaja dengan logat betawi aslinya. Ku pandang Ozcan. Sedikit memahami ucapan Lukman walaupun entah ia paham atau tidak kalimat tersebut. Aku dan Syafaat hanya cekikikan pelan mendengar ocehannya.

؏

Cayhane[1]. Sejenis teh Turki sudah ada dihadapan kami. Serta Simit[2], yaitu roti berbentuk mirip donat yang permukaannya ditaburi wijen hitam (Black Sesame). Simit biasanya dijadikan menu sarapan, tetapi bisa pula dijadikan sekadar kudapan teman minum teh atau kopi. Suasana hangat dan kebersamaan langsung terasa. Ditambah pemandangan kota Istanbul dipagi hari yang begitu dingin tapi sangat indah dan menawan.

Sambil menyeruput teh Turki, aku memandang fokus pada satu arah. Hagia Sophia. Sebuah museum yang begitu bersejarah dalam catatan peradaban Islam. Setiap memandang empat minaret digedung itu, aku terbawa seakan ke zaman sultan Muhammad Alfatih yang begitu mati-matian merebut Konstantinopel dari tangan Romawi. Aku ingin melihat meriam Orban yang begitu berjasa dalam menaklukan Konstantinopel. Meriam Orban bukanlah sembarang nama meriam tersebut. Orbanlah sang pembuat meriam itu. Ketika saya membaca buku Felix Y. Siauw yang berjudul Muhammad Alfatih 1453. Konon sang pembuat meriam itu Syahid tatkala meriam yang dibuatnya meledak karena terlalu panas terus-menerus menggempur pasukan musuh. Sungguh sangat miris tatkala Orban terkena senjata makan tuan. Lebih mirisnya lagi meriam yang meledak itu diciptakan olehnya sendiri.

Aku pun yakin sang pencipta meriam tersebut sudah bersama para Syuhada yang lain. Syuhada yang rela menyerahkan jiwa raganya demi agama Islam. Agama rahmatan Lil Alamiin. Ketika aku mengedarkan pandang ke Hagia Sophia dan Blue Mosque. Dua gedung yang menjadi ikon Istanbul. Pikiranku langsung terhentak tatkala mengingat Hadis Nabi SAW.

لتفتحن القسطنطنية فلنعم الامير اميرها ولنعم الجيش ذالك الجيش

“Sungguh Konstantinopel[3] akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya.” (HR. Ahmad).

Aku kagum dengan antusias serta keteguhan Muhammad Alfatih dalam memperluas dakwah Islam. Seperti yang dilakukan Rasulullah Saw. Seorang panglima perang yang tidak ada duanya. Kini sang penakluk Konstantinopel itu telah tiada dan tinggal menyisakan sebuah nama penghormatan yang akan terus dikenal dunia. Saya berandai-andai jikalau sang sultan berhasil menguasai kota Roma. Mungkin Vatikan yang selalu kita lihat live pada tanggal 25 Desember akan berubah jadi Masjid yang akan selalu live pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

“Hoy diem aja, mikirin rumah…?” Lukman menyadarkan hayalanku. Aku hanya bisa jawab “Ha..Ho..Ho..Ha…”

“Begini Han. Kami mau ke Besikdas. Mumpung lagi liburan musim dingin. Mau ikut tak?” Ujar Syafaat menjelaskan.

“Sekalian kita berkunjung ke Ankara. Disana kan banyak orang Indonesia yang nyantri di Abi Miz.” Lanjutnya.

Abi Miz adalah pengasuh asrama Turki yang mempunyai cabang di Indonesia bahkan di Seluruh dunia. Aku dan Syafaat pernah tinggal di asrama Turki, Pejaten Jakarta Selatan. Sejak kuliah S1 di UIN Jakarta, sempat aku dan Syafaat tinggal di asrama tersebut. Dengan harapan bisa mudah melanjutkan pendidikan ke Turki. Namun harapan aku dan Syafaat sempat terhenti. Kami keluar dari asrama dengan alasan sibuk kuliah dan tidak bisa membagi waktu.

Asrama yang aku tempati memang sangat mewah, di daerah komplek dan bangunannya tak tampak seperti pesantren pada umumnya. Pertama kali aku menginjakan kaki di gerbang pesantren yang bernama “UICCI Umraniye” itu, mataku tak pernah bergeser memandang arsitekturnya. “Ini Istana …” Kataku. Bayangkan, tempat tidur beralaskan ranjang dan kasur empuk layaknya hotel, serta dilengkapi fasilitas AC dan makanan gratis tanpa dipungut biaya sekalipun. Setiap sabtu kolam renang disediakan bagi santri untuk refreshing sejenak, demi memanjakan para penuntut ilmu. Memang setiap hari kami diharuskan untuk menyetor hafalan Qur’an dengan metode hafalan mushaf utsmani. Aku rasa sesuatu yang wajar bila fasilitas asrama ini sangat baik.

Meskipun guru-guruku berdarah Turki dan bermazhab Hanafi, namun kami tetap memakai mazhab Syafi’i. Aku bisa memahami arti dari sebuah perbedaan. Mereka pun tidak pernah mempermasalahkan dan mendebati akan hal itu.

Ada pengalaman paling berharga yang pernah aku dapati di asrama tersebut dan belum pernah aku dapati semenjak di pondok pesantren. Apa itu? Mungkin kalian baru mengerti setelah aku ceritakan, begini ….

Beberapa waktu lalu aku mendapati makanan jatuh tepat di beranda asrama, aku lihat seorang Abi yang berdarah Turki mengambil makanan tersebut, pikiran kala itu mungkin ia akan membuangnya ke tong sampah atau jauh dari halaman asrama. Nyatanya makanan tersebut hanya dipindahkan ke tempat paling tinggi. Aku sempat terheran-heran, makanan yang sudah kotor tersebut masih saja dipindahkan, bukan di buang.

“Ozuldilerim[4] Abi … mau tanya kenapa makanannya dipindahkan Abi…. Kenapa tidak di buang saja?” Tanyaku.

“Abi baru dapat satu makanan saja, nanti pasti di buang kalau sudah waktunya pembersihan.” Jawab Abi begitu ramah.

“Terus kenapa di pindahkan ke tempat lebih tinggi, toh itu kan makanan kotor?” Tanyaku kembali penuh rasa kritis.

“Sekotor-kotornya makanan, awalnya kan bersih. Yang kamu tahu makanan yang sudah jatuh itu kotor dilihat dari aspek kesehatannya bukan? Seperti ada bakteri yang menempel dan kotoran-kotoran lainnya.”

“Meskipun sudah kotor dan tidak boleh di makan lagi, tidak seharusnya kita mengabaikan begitu saja. Kalau ingin buang, silahkan buang ke tempat sampah. Jika tidak sempat, silahkan pindahkan ke tempat yang lebih tinggi. InsyAllah akan ada keberkahannya.”

Ucapan Abi membuat aku terdiam dan berfikir berkali-kali, aku sudah belajar akhlak dan fiqh namun hal tersebut tidak pernah aku terapkan dikehidupan sehari-hari.

Di waktu yang lain pula aku sedang menghafal dengan berselonjoran kaki mengarah ke kiblat, sekilas aku berfikir itu wajar-wajar saja toh selama ini tidak ada yang melarang. Namun pada hari itu ada seseorang santri yang sudah cukup lama tinggal di asrama tersebut menegur, “Maaf bang, tolong kakinya jangan selonjoran mengarah kiblat! Dan al-Qur’annya jangan diletakkan rendah di bawah dada, harusnya pas sejajar dengan dada!”

Hatiku sempat tersinggung ketika itu, “ini asrama banyak sekali aturannya.” Keluh di hati.

Bahkan membawa kitab saja tidak boleh di “tenteng” layaknya membawa tas gagang. Seharusnya ditaruh di dada atau di atas kepala. (Mungkin kalian dapat memahami penjelasan tersebut). Pantas guru-guruku yang masih berumuran muda sangat cepat sekali menghafal al-Qur’an.  Intinya aku bisa dapati kedisiplinan dari orang-orang Turki, bahwa belajar tanpa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sama saja seperti minum kopi tapi memakai teh. Entah bagaimana rasanya.

“Terus ke Besikdas mau ngapain At?” Aku langsung membalas usulan Syafaat.

“Masa gak tau. Katanye pendukung fanatik MU.” Timpal Lukman ketusnya. Aku sempat kesal dengan gaya bibirnya yang maju mundur kaya ikan mujaer.

“Saya punya tiket nonton babak 8 besar Manchester United VS Besiktas Han. Makanya saya ngajak kalian mumpung lagi libur.” Ozcan tak kalah hebatnya mengeluarkan empat tiket untuk ditunjukan kepada kami. Aku sempat iri dan kagum. Aku iri karena ada yang lebih fanatik mendukung klub kebanggaan Inggris itu ketimbang aku sendiri. Disisi lain bangga pada Ozcan karena begitu royal kepada kami.

Aku pun begitu semangat dan tidak akan melewati momen terindah ini. Momen dimana aku bisa melihat pemain kebanggaan publik Old Trafford. Wayne Rooney, Van Persie serta Juan Mata yang baru saja bergabung dari klub rival terberat, Chelsea.

“Ayolah!” Ucapan yang begitu singkat dan jelas dari bibir manisku. Mataku berkaca-kaca. Tidak sabar pertama kalinya dalam sejarah hidup menonton sepak bola di benua eropa. Jangankan di eropa, di Senayan pun aku tidak pernah idep nonton Timnas vs Malaysia saat piala AFC berlangsung. Kali ini aku akan mengabadikan momen di stadion milik klub besiktas tersebut. Akan aku post ke Abdul Rasyid, kawanku dan kedua sahabatku di UIN Jakarta. Ia juga penggemar MU. Teringat masa-masa lalu ketika kami selalu tanding Play Station di laptop miliknya. Ia selalu mengandalkan Wayne Rooney yang begitu cepatnya dan tendangan yang begitu keras menghujam setiap penjaga gawang. “Gooool!” seraya menoyor kepala ku. Sungguh fanatik tapi sadis. Sayangnya kami jarang bertemu. Kini ia melanjutkan studinya di Kairo, Mesir.

Aku juga ingin memamerkan foto kami bertiga ke sahabat lama kami sewaktu di UIN. Mereka Makhfiyyah, Umay dan Kholis. Mataku langsung menatap Syafaat dan Lukman.

“Broo… Umay, Imut, Oliss!…”

Aku langsung bergegas ke kamar. Mengambil laptop. Membuka Email kepada mereka. Syafaat dan Lukman hanya terbengong heran. “Aneh lu Han, mau ngapain coba…” Aku tidak peduli ocehan Lukman. Setelah windows 7 terpampang dilayar, barulah aku ketik Mbah Google dan menulis Yahoo.

Selamat datang Ahmad. Koneksi yang begitu cepat yahoo menyapaku. Lukman langsung paham dengan gerak gerik ku. Mengirim email ke mereka yang sedang menempuh S2-nya di Paris, Perancis. Aku pun langsung didesaki kedua kepala sahabatku yang juga ingin melihat kelayar berukuran 11 inci ini.

To: Muthiayahya@yahoo.com

Imut, Umay and Brew Olis. Gimana kabar kalian di sana? Cuaca disini cukup dingin. Namun begitu hangat saat teh khas Turki langsung bersemayam di perut kami.

O ya… gimana pengalaman kalian disana? Bersyukur banget yah, khayalan kita semenjak di Tarjamah akhirnya terwujud juga. Khayalan yang mungkin tamanni[5] bagi kita semua.

Ane, Nana sama Lukman lusa akan jalan-jalan ke benua Asia. Percaya atau tidak kami bolak balik dari benua asia ke eropa hanya hitungan menit. Hehehe….

Sudah kemuseum Luvra? Sama ke menara Eiffel? Kalau belum cepat kunjungi kesana dan mengabadikannya. Lalu kirim kesini. Wakili kami yang berada di Istanbul. Jadikan Film 99 Cahaya di Langit Eropa yang kita tonton dulu berubah menjadi kenyataan. Ane ingin lihat Olis melantunkan azan di atas tower Eiffel, sama seperti disaat Abimana yang berperan menjadi Rangga melantunkan azan maghrib.

Email sudah ku kirim. Mata kami saling pandang memandang. Senyum cerah terpancar dari wajah kami bertiga. Ku arah kan jari telunjuk ke pusat cahaya. Pandanganku, Syafaat dan Lukman mengarah pada cahaya itu. Silau, tapi menakjubkan. Ozcan mungkin tidak paham dengan maksud kami. Perlahan cahaya matahari itu semakin terang. Menerangi minaret Blue Mosque, Hagia Sophia serta seluruh kota Istanbul.

Kami masih duduk di pelataran Nobel Hostel. Tempat penginapan kami sekaligus penginapan milik keluarga Ozcan. Jaraknya tidak jauh dari Blue Mosque dan Hagia Sophia. “Kawan… coba lihat cahaya itu. Kirim salam pada keluarga kita yang berada di Indonesia. Kirim salam pada sahabat kita yang berada di Paris. Bukankah cahaya itu sama? Sama-sama bergantian menyinari dunia. Hanya saja terhalang oleh malam.” Dengan seriusnya aku memandang cahaya itu, telunjukku perlahan keatas mengiringi peredaran matahari. Perlahan pula rasa dingin itu berkurang.

“Buktikan pada mereka. Pada dunia. Kalau kita akan memegang peranan penting dalam memajukan tanah air. Buat orang tua kita bangga. Satu lagi. Sampai kapanpun, bahkan sampai cahaya itu sudah tidak muncul lagi, persahabatan kita tidak akan berakhir.” Lanjutku meningkatkan volume suara. Rasa semangat ku pun timbul. Sampai-sampai Ozcan menepuk tangan sembari mengarahkan dua jempolnya kepada kami.

Aku dan Syafaat sempat terheran-heran ketika melihat satu sahabat kami tiba-tiba mengeluarkan air mata. Lukman. Sempat akupun bertanya padanya. Ente kenapa tiba-tiba nangis Ya Sohabi[6]? Namun ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Aku, Syafaat dan Ozcan sempat khawatir, tidak biasanya teman kami menjadi galau begini.

“Lukman, cerita sama ane kenapa ente sedih?” Kembali aku beranikan diri bertanya padanya.

“Iya Man, kalau ada apa-apa cerita aja. Kaya sama siapa aja.” Timpal Syafaat sambil mengusap-usap pundaknya.

Sejenak ia menyeka air matanya. Ozcan memberikan tissue kepadanya. Perlahan ia tarik nafas dalam-dalam, mencoba menetralisir keadaan. Kami pun siap mendengarkan apa yang akan dikeluhkan oleh sahabat kami.

“Ane menangis bukan karena ada permasalahan yang pelik. Tapi karena mengingat perjuangan kita bertiga demi sebuah cita-cita.” Dengan suara yang terengah-engah kami terus mendengarkan isi hati Lukman.

“Farhan, Nana, masih ingat sebelum impian kita sekarang benar-benar terwujud? Kita membentuk misi. Misi yang harus kita wujudkan bersama. Tiap hari kita berpanas-panasan mencari satu titik harapan agar kita bisa mendapat beasiswa kesini. Kita obrak-abrik semua informasi beasiswa. Kita kunjungi Depag, Sekneg, Gedung Kementrian sampai Kedutaan Besar. Hingga pada akhirnya pengorbanan serta jerih payah kita tidak sia-sia.”

“Ane sempat pesimis. Bingung. Apakah misi kita ini hanya angan-angan belaka?. Jikalau misi kita terwujud, bagaimana kelanjutan pendidikan kita kedepan. Apakah nanti akan jadi sampah masyarakat? Ataukah akan dikenang seperti Muhammad Alfatih?”

Aku tertunduk pelan, isi hati Lukman begitu menyentuh. Memang pengorbanan kami selama ini begitu berharga dan sayang untuk dilupakan.

“Ini yang ane khawatirkan. Jangan sampai salah satu dari kita mendapat ocehan masyarakat. Nauzubillah jika ada perkataan, “Jauh-jauh sekolah, pulang hanya menjadi pengangguran”. Terima kasih Han. Kata-kata ente menyadarkan ane. Mari sama-sama kita hidupkan cahaya itu bahkan sampai cahaya tersebut terbit dari barat!” Dengan semangat 45-nya, Lukman memberikan suntikan semangat positive kepada kami.

Akupun seperti terlahir kembali. Kini aku terlahir dari jiwa optimisku sendiri. Bukan lagi dari Rahim Ibuku sejak 23 tahun lalu. Kini cita-citaku akan kugapai. Demi membahagiakan kedua orang tua ku. Pikiranku pun kembali kemasa silam. Kemasa disaat aku  menuntut ilmu di Pesantren al-Hidayah, Basmol.

Nantikan cerita selanjutnya ….

Mohon kritik dan sarannya,

Salam: Ahmad Farhan (Alumni al-Hidayah 2010)

[1] Teh

[2] Roti Renyah

[3] Sekarang Istanbul

[4] Maaf

[5] Berharap tapi mungkin sulit terwujud

[6] Wahai Kawanku

Selamat Jalan M. Syist Turmuzi

syits

Sabtu, 2 Mei 2015 keluarga besar Almaa kehilangan penerus dakwah yang masih berusia muda 21 tahun itu. Ya, Mumammad Syits Turmuzi, yang tercatat sebagai salah satu alumni pondok pesantren Al-Hidayah Basmol angkatan 2011 dipanggil oleh yang Maha Kuasa setelah mengalami sakit infeksi lambung. Anak muda yang biasa dipanggil Syits oleh teman-temannya sewaktu jadi santri sempat dirawat di rumah sakit tapi ia tidak betah tinggal disana hingga minta dipulangkan di rumah. Mungkin itulah yang terbaik, sekembalinya ke rumah beberapa hari kemudian ia kembali dengan tenang untuk selamanya.

Syits, merupakan salah satu santri yang cerdas dan memiliki daya hafalan yang sangat cepat dan kuat. Maka tak heran selagi hafalan Jurumiyah dulu kelas 1 Mts dia termasuk yang terbaik dan hafalan Alfiyah Ibnu Malik termasuk yang paling banyak di banding teman-temannya yang lain. Seperti kata pepatah, ‘ Buah tak jatuh dari pohonnya’ ternyata Ustadz Umar Turmuzi ayahandanya ialah seorang penghafal al-Quran dan punya cita-cita mulia ingin membangun pesantren yang mencetak para fuqaha. Harapan sang ayah ke Syits cukup kuat agar sang anak menjadi penerus dakwahnya dan pemimpin pesantren yang hampir sebentar lagi selesai pembangunannya. Namun tetap saja manusia hanya sebatas merencanakan, Allah lebih tau dengan ketentuannya yang terbaik.

Ia juga sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) semester delapan. September 2015 tadinya ialah target ia diwisuda memakai toga kebanggaan dan Allah mewisudaknnya terlebih dahulu dengan cara yang lebih indah.

Syits termasuk orang yang mau mencoba sesuatu yang baru, salah satunya dunia blogging dan web site. Terinspirasi dari pamannya mantan anggota dewan di DPRD DKI Jakarta yang punya blog dan website membuat ia mau berpetualang di dunia tersebut. Dengan kecerdasan dan kenekatannya mencoba-coba membuat blog dan web site akhirnya bisa juga. Salah satu web site pribadinya yang masih aktif bisa klik disini www.muhammadsyits.com. Disitu ada salah satu tulisannya yang membahas tentang kematian yang bagus dijadikan sebagai bahan renungan.

Begitulah sekilas kabar alumni, semoga almarhum dijadikan kuburnya dengan taman-taman surga.

Selamat jalan santri sampai mati !!!

 

 

Mengenang Tuan Guru KH. Alawi M. Zein, M. A

kh.alwizein

Foto alm. KH. Alwi M. Zein

Sudah hampir sekitar delapan bulan, Tuan Guru meninggalkan kami. Sebagai rasa rindu, kami sekilas akan menceritakan bagaimana perjuangan dan semangat beliau ketika belajar dulu. Agar kita yang masih bernafas kembali semangat dalam belajar khususnya para santri yang masih tinggal di Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol. Tulisan ini berdasarkan cerita dari beberapa alumni pendahulu.

KH. Alawi terlahir dari keluarga yang bisa dibilang jauh dari cukup bahkan buat memenuhi kehidupan sehari-hari saja sangat sulit. Meski begitu, tekad dan semangatnya untuk mendalami ilmu-ilmu agama tidak pernah luntur. Ini terbukti bagaimana beliau harus mencakul dan berjualan terlebih dahulu demi melanjutkan belajarnya di Pesantren. Jadi saat dulu beliau belajar di Pondok Pesantren Annida Al-Islamy Bekasi yang dipimpin oleh Syeikh Muhajirin Amsar ad-Dary harus membagi waktunya menjadi dua bagian ; dua minggu ke rumah, mencakul kebun dan berjualan serta dua minggu lagi untuk belajar di Pesantren. Bahkan dengan kondisi yang serba kekurangan membuat KH. Alawi pernah ada di dua pilihan, memilih menjadi tukang asongan atau terus belajar di pesantren. Lagi-lagi semangatnya mengalahkan segalanya, beliau tetap sabar menjalani kesehariannya tersebut.

Untuk mengaji pun, beliau tidak kehabisan akal. Dengan uang hasil pas-pasan dari mengcangkul dan berjualan beliau belum bisa membeli kitab-kitab yang dikaji di Pesantren. Keadaan ini tidak membuat beliau berhenti belajar. Beliau bela-belain untuk meminjam kitab-kitab yang belum dimilikinya kepada saudara dan teman-temannya yang punya. Dengan keadaan seperti itu, justru menumbuhkan semangat belajar yang sangat tinggi.

Pantas saja, bila di kemudian hari beliau menjadi salah satu ulama di Jakarta yang cukup disegani. Ulama yang biasanya berpenampilan sederhana ini sudah menjawab bahwa kekurangan bukan jadi alasan penghambat kesuksesan.

Begitulah sedikit cerita Tuan Guru sebagai penawar rindu ini.