Blog Archives

Walimah Putri (alm) KH. Alawi M. Zein, M. A

IMG_20150724_230954

IMG_20150724_231004Assalamu’alaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh

Kami mewakili keluarga besar (alm) KH. Alawi M. Zein, M. A turut mengundang sahabat alumni Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol untuk menghadiri resepsi pernikahan putri beliau.

Najwa Alawi, SKM

dengan

Musayyib, S. Pd. I

Yang insyaa Allah akan dilaksanakan pada :

AKAD NIKAH

Minggu, 9 Agustus 2015 – 24 Syawal 1436 H

Jam : 08.00 WIB

Tempat : Di kediaman mempelai wanita (rumah alm KH. Alawi M. Zein, M. A)

Depan Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

RESEPSI

Minggu, 9 Agustus 2015 – 24 Syawal 1436 H

Jam : 10.00 WIB s/d SELESAI

Tempat : Di kediaman mempelai wanita (rumah alm KH. Alawi M. Zein, M. A)

Depan Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol

Kami mewakili keluarga besar (alm) KH. Alawi Muhammad Zein, M. A mohon maaf bila dalam perihal undangan tak bisa langsung bersua mengingat banyaknya kesibukkan dan kekurangan.

Mohon untuk dikabarkan kepada sahabat alumni lainnya, karena berbagi kabar baik itu SEDEKAH yang insyaa Allah akan dibalas oleh Allah SWT.

Merupakan suatu kehormatan atas kehadirannya, mengawali kedatangan sahabat alumni nanti kami ucapkan ‘Syukran katsiran wa Jaazakumullah ahsanal Jaaza’

Hormat Kami :

Keluarga Besar (alm) KH. Alawi M. Zein, M. A

Keluarga Besar Alumni Ma’had Al-Hidayah Basmol

Wassalamu’alaikum Wa rahmatullah Wa barakatuh

Mengenang Tuan Guru KH. Alawi M. Zein, M. A

kh.alwizein

Foto alm. KH. Alwi M. Zein

Sudah hampir sekitar delapan bulan, Tuan Guru meninggalkan kami. Sebagai rasa rindu, kami sekilas akan menceritakan bagaimana perjuangan dan semangat beliau ketika belajar dulu. Agar kita yang masih bernafas kembali semangat dalam belajar khususnya para santri yang masih tinggal di Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol. Tulisan ini berdasarkan cerita dari beberapa alumni pendahulu.

KH. Alawi terlahir dari keluarga yang bisa dibilang jauh dari cukup bahkan buat memenuhi kehidupan sehari-hari saja sangat sulit. Meski begitu, tekad dan semangatnya untuk mendalami ilmu-ilmu agama tidak pernah luntur. Ini terbukti bagaimana beliau harus mencakul dan berjualan terlebih dahulu demi melanjutkan belajarnya di Pesantren. Jadi saat dulu beliau belajar di Pondok Pesantren Annida Al-Islamy Bekasi yang dipimpin oleh Syeikh Muhajirin Amsar ad-Dary harus membagi waktunya menjadi dua bagian ; dua minggu ke rumah, mencakul kebun dan berjualan serta dua minggu lagi untuk belajar di Pesantren. Bahkan dengan kondisi yang serba kekurangan membuat KH. Alawi pernah ada di dua pilihan, memilih menjadi tukang asongan atau terus belajar di pesantren. Lagi-lagi semangatnya mengalahkan segalanya, beliau tetap sabar menjalani kesehariannya tersebut.

Untuk mengaji pun, beliau tidak kehabisan akal. Dengan uang hasil pas-pasan dari mengcangkul dan berjualan beliau belum bisa membeli kitab-kitab yang dikaji di Pesantren. Keadaan ini tidak membuat beliau berhenti belajar. Beliau bela-belain untuk meminjam kitab-kitab yang belum dimilikinya kepada saudara dan teman-temannya yang punya. Dengan keadaan seperti itu, justru menumbuhkan semangat belajar yang sangat tinggi.

Pantas saja, bila di kemudian hari beliau menjadi salah satu ulama di Jakarta yang cukup disegani. Ulama yang biasanya berpenampilan sederhana ini sudah menjawab bahwa kekurangan bukan jadi alasan penghambat kesuksesan.

Begitulah sedikit cerita Tuan Guru sebagai penawar rindu ini.